Menghindari Kebiasaan dan Rintangan

Yang dimaksud kebiasaan ialah kerelaan terhadap apa yang biasa terjadi di tengah manusia dan yang mereka lakukan secara terus menerus, berupa adat dan tatanan hidup yang kedudukannya mereka sejajarkan dengan syariat yang harus diikuti, atau bahkan mereka menganggapnya lebih tinggi dari syariat. Mereka mengingkari orang yang keluar dari tatanan ini atau menentangnya, dan mereka tidak mengingkari orang menentang syariat yang sudah jelas. Atau bahkan menganggap orang ini kafir dan sesat, mereka mengisolirnya dan menghukumnya, karena mereka menentang tatanan itu dan tidak mau memeliharanya. Mereka menjadikan tatanan ini sebagai tandingan bagi Rasul dan loyal kepadanya. Orang yang berbuat kama’rufan ialah yang berbuat sejalan dengan tatanan itu, dan orang yang mungkar adalah yang menentang tatanan itu.

Adat dan tatanan ini telah menguasai sekian banyak lapisan masyarakat manusia, dari kalangan raja, penguasa, fuqaha, sufi, orang-orang awam dan orang-orang miskin. Anak-anak dididik berdasarkan tatanan dan adat itu, orang dewasa juga tumbuh diatasnya, lalu dijadikan aturan hidup, bahkan dianggap lebih besar daripada Sunnah Rasul.

Siapa yang menerapkan As Sunnah dipenjara, yang membatasi diri dengan As Sunnah dikucilkan. Musibah karena yang demikian ini merebak dimna-mana. Al Kitab dan As Sunnah dijauhi. Padahal siapa yang mendukung adat itu akan dihinakan disisi Allah, dan siapa yang mengikutinya dengan mengabaikan Al Kitab dan As Sunnah-Nya tidak akan diterima disisi Allah.

Ini merupakan perintang paling besar antara hamba dan kembali kepada Allah serta Rasul-Nya. Adapun perintang ini sendiri ialah berupa segala jenis penentangan, yang zahir maupun yang batin, yang merintangi hati untuk kembali kepada Allah dan memotong jalannya, yaitu berupa tiga hal: syirik, bid’ah dan kedurhakaan. Perintang syirik dienyahkan dengan memurnikan tauhid, perintang bid’ah dienyahkan dengan menerapkan As Sunnah dan perintang kedurhakaan dienyahkan dengan taubat yang sesungguhnya.

Perintang-perintang ini tidak akan nampak jelas di mata hamba kecuali jika dia mau mengadakan perjalanan kepada Allah dan menuju akhirat. Pada saat itulalah perintang-perintang tersebut akan tampak di hadapannya. Seberapa banyak perintang yang menghadang, sebanyak itu pula perjalanan yang dilakukannya. Selagi dia duduk dengan tenang, maka perintang itupun tidak akan tampak sama sekali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s